Followers

There was an error in this gadget

Monday, June 25, 2012

Berdosa Jika Pilihanraya Dilaksanakan Sewaktu Musim Haji


Oleh Multaqa Asatizah & Du’at (MURSHID)

Kami, selaku pendakwah dan asatizah telah dan kerap ditanya berkenaan isu mengadakan pilihanraya sewaktu musim haji. Justeru itu, sebagai respon kepada pertanyaan tersebut, pihak Multaqa Asatizah & Duat (MURSHID) dalam mesyuarat yang lalu berpendapat seperti berikut :-

Di dalam system demokrasi, pilihanraya dan proses pengundian adalah ibarat suatu mahkamah besar bagi memilih siapa yang lebih layak diberikan amanah memerintah, maka sewaktu sistem demokrasi dijadikan panduan dan diterima oleh majoriti rakyat, tugas terbesar kerajaan melalui Suruhanjaya Pilihanraya (SPR) adalah memastikan semaksima mungkin penyertaan rakyat dalam pilihanraya, justeru kempen untuk pendaftaran pengundi mestilah dipertingkatkan kecanggihannya dan dipermudah di seluruh tanahair. Rakyat Malaysia selaku pengundi layak yang berada di luar negara perlu di jamin hak mereka agar boleh mengundi melalui kaedah yang berkesan lagi dipercayai.

Kami juga bersepakat bahawa Pilihanraya dan proses pengundian TIDAK BOLEH atau HARAM dilaksanakan sewaktu musim perayaan dan ibadah umat Islam khususnya musim haji yang mana berpuluh ribu pengundi dan petugas haji sedang berada di luar Negara.
Sekiranya pilihanraya tetap dilakukan di musim haji, itu merupakan suatu pengkhianatan terhadap amanah dan sistem pemilihan. Ini adalah kerana proses pengundi adalah suatu proses KESAKSIAN. Firman Allah :

(وأشهدوا ذوى عدل منكم ..(الطلاق: 2
Mafhum : “Bersaksilah dengan mereka yang adil dari kalangan kamu”( At-Talaq: 2)

Juga Firman Allah :
وَلاَ يَأْبَ الشُّهَدَاء إِذَا مَا دُعُوا
Ertinya : Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil ( Al-Baqarah : 282)

Dalil-dalil di atas menunjukkan, apabila kita berada di dalam suatu situasi atau keadaan sistem yang memerlukan mereka yang bermaklumat memberi kesaksian demi memberikan keputusan demi keadilan, mereka adalah dikira sebagai saksi yang diharamkan untuk menolak dari memberikan keterangan dan kesaksian.

Dalam konteks pilihanraya, rakyat sebenarnya bertindak sebagai SAKSI sama ada untuk menyokong atau menolak mana-mana calon yang bertanding. Justeru, SEKIRANYA pihak berkuasa memutuskan pilihanraya akan dijalankan pada musim haji, ia adalah suatu tindakan yang akan menghalang rakyat dari keluar menunaikan tanggungjawab mengundi.

Jika seorang saksi TIDAK DIBENARKAN untuk menolak tanggungjawab memberi kesaksian, maka tentunya DIHARAMKAN juga bagi pihak ketiga untuk menghalang saksi dari memberikan kesaksian seperti sengaja mengadakan sesi perbicaraan ketika saksi berada di luar negara.

Justeru, setiap individu yang mempunyai hak dan berkelayakan memberikan kesaksian samada di mahkamah, termasuk kesaksian dalam bentuk mengundi sewaktu pilihanraya, tidak dibolehkan untuk sengaja menyembunyikan kesaksian atau dinafikan hak dan ruang memberi kesaksian termasuk oleh pihak berkuasa sekalipun. Firman Allah Ta'ala :

وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
"Maka janganlah kamu (wahai orang-orang yang menjadi saksi) menyembunyikan perkara yang dipersaksikan itu dan sesiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya dia adalah orang yang berdosa hatinya dan (ingatlah), Allah sentiasa Mengetahui akan apa yang kamu kerjakan." (Al-Baqarah :283)

Akhirnya, kami menyeru pihak berkuasa agar teguh menjalankan amanah yang terbaik buat rakyat bagi mereka menjalankan tugas dan amanah selaku pengundi yang perlu memberi penyaksian parti dan calon yang dipercayainya. Kami yakin, pihak berkuasa tentunya bijak dalam memutuskan keputusan dalam hal ini.

Sekian dari kami,
1. Dr. Zaharuddin Abd Rahman (Pengerusi)
2. Dr. Zulkifli Mohamad Al-Bakri
3. Dr. Zahazan Mohamed
4. Dr. Maszlee Malek
5. Dr. Abd Basit Abd Rahman
6. Dr. Ahmad Wifaq Mokhtar
7. Dr. Khairuddin Aman Razali
8. Dr. Sukki Othman
9. Ustaz Roslan Mohammad
10. Ustaz Zamri Zainuldin
11. Ustaz Mohd Nidzam Abd Kadir
12. Ustaz Imam Muda Asyraf Ridzuan
13. Ustaz Izhar Ariff Mohd Kashim
14. Ustaz Aizam Mas’ud
15. Ustaz Ahmad Husni Abd Rahman
16. Ustaz Ahmad Fauwaz Fadzil
17. Ustaz Syed Mohamad Nurhisham Tuan Padang
18. Ustaz Ramadan Fitri Elias
19. Ustaaz Abdullah Bukhari Abd Rahim
20. Xifu Naseer Abd Rahman
 

Friday, June 22, 2012

Sejumlah foto bukti kekerasan di Arakan, para korban dan pengungsi Muslim Rohingya (bagian 2)


ARAKAN (Arrahmah.com) - Penderitaan Muslim Rohingya di Arakan (Rakhine) atau yang telah mengungsi ke negara tetangga, belum juga berakhir. Pembakaran dan penjarahan rumah-rumah Muslim Rohingya di desa-desa di sejumlah kota di Arakan masih terus terjadi. Tak terkecuali pembunuhan, yang telah memakan korban ribuan jiwa, belum lagi kasus pemerkosaan Muslimah Rohingya, serta mereka yang terpaksa mengungsi ke negara tetangga yang juga tak diterima dengan baik, bahkan diusir, semua itu kian menyakiti hati kaum Muslimin di seluruh dunia.
Meskipun telah separah itu, dunia internasional seakan tak berdaya menghadapinya. Muslim Rohingya benar-benar tak dilindungi, baik dari pihak dalam negeri atau pun luar negeri. Padahal, Rakhine bukanlah suatu wilayah yang jauh dari kehidupan manusia yang sulit dijangkau. Bahkan otoritas Burma pun diam dan membiarkan kekejaman terhadap Muslim terus terjadi, mengklaim telah mengirim pasukan keamanan mereka ke Arakan, namun pasukan keamanan benar-benar tak melindungi warga Rohingya, bahkan terlibat dalam kekerasan.
Foto-foto ini adalah gambar yang sebagiannya dipublikasikan oleh beberapa media pro-Rohingya dan sebagian dipublikasikan oleh mereka yang memiliki koneksi ke sumber langsung di Arakan, dan beberapa diambil dari video di Youtube. Ini hanya sebagian bukti kecil dari kekerasan yang terjadi di Arakan. Sementara rincian laporan yang tepat terkait jumlah korban tewas, terluka dan pengungsi Muslim Rohingya belum tercatat, karena saking banyaknya dan keterbatasan pengumpulan informasi.
Diamnya sebagian besar media top skala internasional akan kekejaman yang dilakukan terhadap kaum Muslimin Rohingya, termasuk sebab ketidaktahuan dunia luar akan kondisi Rohingya. Beberapa media internasional yang berhasil terjun ke lapangan, hanya merekam situasi sekilas saja, dan tidak menunjukkan atau melaporkan bagaiamana Muslim dibantai dan rumah mereka dibakar, serta hanya menunjukkan keberadaan pasukan keamanan Burma yang terlihat berjaga-jaga, namun tak diungkap bagaimana pasukan keamanan turut terlibat bersama dengan etnis Buddha Rakhine dalam membakar rumah, menangkap dan membunuh kaum Muslimin. Juga tak diungkapkan terkait ribuan nyawa Muslim yang telah tiada akibat kekejian yang dilakukan terhadap mereka dan puluhan ribu dari mereka terpaksa terlantar.
Sumber-sumber lokal langsung dari Arakan yang masih dapat berkomunikasi dengan dunia luar, mengabarkan situasi yang terjadi sebenarnya melalui kerabat mereka, teman atau media pro-Rohingya, meskipun dengan kemampuan mengumpulkan rincian informasi yang terbatas. Apa yang dapat diberitakan, hanya sebagian kecil saja, yang hanya mewakili bahwa benar-benar terjadi kekejaman terhadap Muslim di Myanmar.
Kaum Muslimin yang sedang dizalimi saat ini di Arakan, sungguh sedang berada dalam keadaan yang sangat memprihatinkan, tak berdaya, hanya mengharap pertolongan Allah, dengan harapan semoga Allah mengirimkan orang-orang yang akan membantu mereka, terutama dari bangsa-bangsa Muslim di dunia yang memiliki kemampuan.
Begitu sulitkah bagi mereka yang memiliki kapasitas untuk menolong Muslim Rohingya? Haruskah menunggu keputusan atau penyelidikan presiden Burma atau PBB? Muslim Rohingya bukanlah imigran ilegal di Arakan, sudah seharusnya mereka mendapatkan perlindungan dari badan internasional yang mengklaim menjunjung tinggi 'Hukum dan Hak Asasi Manusia!' yang selalu mereka usung itu.
"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar." (Al-Buruuj: 8-10)
"Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar." (Al-Hajj :39-40)
"Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan kelemah-lembutan diantara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan demam dan tidak bisa tidur." (Muttafaqun ‘Alaih dari al-Nu'man bin Basyir) 
(siraaj/arrahmah.com)

Foto-foto bukti kekerasan di Arakan, para korban dan pengungsi Muslim Rohingya



Kekerasan di desa-desa Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine (Arakan) di Burma (Myanmar), meliputi pembunuhan, penjarahan, pembakaran, penangkapan masih berlangung. Badan-badan internasional, seperti PBB, masih tak berdaya menghadapi sekelompok etnis Buddha yang didukung pasukan gabungan 'keamanan' Rakhine.


Ribuan Muslim Rohingya telah gugur (semoga Allah menerima mereka) akibat dibantai oleh etnis Rakhine secara brutal. Puluhan ribu lainnya menjadi tunawisma dan sedang menderita kelaparan dan pengobatan di Arakan. Ini adalah foto-foto bukti dari kebiadaban yang dilakukan etnis Rakhine terhadap Muslim Rohingya.
Media-media Burma yang pro-Rakhine telah menyebarkan propaganda terkait Muslim Rohingya. Mereka menggambarkan bahwa Muslim Rohingya adalah teroris dan yang membunuh serta membakar rumah-rumah etnis Buddha Arakan. Salah satu bukti bahwa orang-orang etnis Rakhine-lah yang melakukan kekerasan adalah bisa dilihat dari pakaian mereka yang memakai pakaian khas Buddhis atau celana pendek. Perlu diketahui bahwa kebanyakan Muslim Rohingnya, mereka biasa memakai sarung selutut, mungkin sangat jarang yang terlihat memakai celana pendek. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa etnis Buddha menyamar berpakaian seperti Muslim Rohingya, buktinya saja, polisi Burma yang menangkapi para pemuda Rohingya yang kemudian disiksa, mereka diperlengkapi senjata untuk diambil gambar mereka dan disebarkan. Foto-foto ini diambil dari berbagai sumber di media Arakan dan sebagian dari video yang dipublikasikan diYoutube.

Ribuan lainnya terpaksa melarikan diri ke negeri tetangga, Bangladesh, untuk menyelamatkan diri mereka. Sejumlah Muslim berhasil sampai ke Bangladesh dan berdiam diri di kamp pengungsian Lada, di selatan Bangladesh, yang dioperasikan oleh LSM Muslim Inggris yang menyediakan pengobatan dan bantuan makanan. Namun karena keterbatasan, kamp pengungsian dibangun dengan seadanya bahkan tidak layak. Tak semua Muslim Rohingya dapat tinggal di kamp pengungsian, disebabkan ribuan dari mereka telah diusir oleh otoritas Bangladesh karena dianggap ilegal. Sementara sejumlah Muslim juga ditahan oleh polisi-polisi perbatasan dan bahkan dihukum dijemur di atas pasir pantai yang panas.
 

Muslim Rohingya baik yang masih tinggal di Arakan dan sedang mengungsi ke negara tetangga, sedang dalam kondisi kritis, butuh pertolongan segera dari dunia internasional. Hingga kini Muslim Rohingya masih hidup dalam ketakutan.
 

"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar." (
 Al-Buruuj: 8-10)

"
 Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar." (Al-Hajj :39-40)

"Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan kelemah-lembutan diantara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan demam dan tidak bisa tidur." (Muttafaqun ‘Alaih dari al-Nu’man bin Basyir)  














































































[www.globalmuslim.web.id]
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...